NGADA, FN- Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, terus berjalan dengan dukungan masyarakat setempat.
Di kaki bukit Mataloko, panas bumi bukan sekadar fenomena alam. Bagi warga Desa Ulubelu ini adalah cerita panjang tentang perubahan, harapan, dan kehidupan yang terus berjalan selaras dengan alam.
Sejak puluhan tahun lalu, masyarakat di wilayah ini telah akrab dengan manifestasi alam seperti lumpur panas dan mata air hangat yang muncul dari perut bumi.
Bagi mereka, itu bukan sesuatu yang menakutkan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Emilia Wawo, warga Daratei, masih mengingat masa-masa ketika orang luar pertama kali datang meneliti potensi panas bumi di kampung mereka.
Sekitar tahun 1984 hingga 1996, para ahli melakukan survei di berbagai titik.
Saat itu, rasa cemas sempat menyelimuti warga. Namun waktu mengubah segalanya.
Melalui sosialisasi yang dilakukan pemerintah bersama PLN, perlahan pemahaman masyarakat mulai terbuka.
Mereka mulai mengenal istilah geothermal-energi yang diambil dari uap air panas di dalam bumi dan dikenal ramah lingkungan.
“Hari ini harapan kami melihat terang itu adalah terang listrik yang sedang dibangun di Daratei. Kami bangga karena Tuhan memberikan anugerah besar berupa panas bumi di tempat kami,” tutur Emilia.
Baginya, kehadiran proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko bukan ancaman, melainkan peluang.
Ia bercerita, setelah pengeboran sumur MT1 hingga MT6 dilakukan, kehidupan masyarakat tidak berubah ke arah yang dikhawatirkan.
Sebaliknya, lahan-lahan tetap subur, kebun warga tetap hijau, dan aktivitas sehari-hari berjalan seperti biasa.
“Kami tetap hidup seperti biasa dan tetap bersahabat dengan alam,” katanya.
Kisah serupa datang dari Katharian Fono, yang juga tinggal di Daratei.
Ia merasakan langsung perubahan dalam hidupnya sejak proyek geothermal hadir.
Dulu, ia hidup dalam keterbatasan, tinggal di rumah bambu dengan atap sederhana. Kini, kondisi itu perlahan berubah.
“Sekarang anak saya bekerja di proyek geothermal, dan saya bisa membangun rumah yang lebih layak,” ujarnya.
Bagi Katharian, panas bumi bukan sekadar sumber energi, tetapi juga jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Di sisi lain, tokoh adat Desa Dadawea, Leonardus Bhara, menegaskan bahwa seluruh proses pengembangan PLTP Mataloko tidak mengabaikan nilai-nilai lokal.
Setiap tahapan dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan tetap menghormati adat istiadat.
Mulai dari survei lokasi, penentuan titik pengeboran, hingga proses ganti rugi tanah dan tanaman, semuanya dilakukan secara terbuka.
Bahkan, pelepasan lahan dilaksanakan melalui seremoni adat sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya setempat.
“Semua sudah melalui tahapan yang jelas, termasuk secara adat,” ungkapnya.
Di tengah berbagai isu negatif yang beredar, warga Ulubelu justru menjadi saksi hidup dari kondisi yang mereka rasakan sendiri.
Mereka menegaskan bahwa kabar tentang kerusakan lingkungan atau dampak buruk lainnya tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Bagi mereka, panas bumi tetap menjadi bagian dari alam yang harus dijaga dan kini juga menjadi sumber harapan baru.
Sementara General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menyampaikan bahwa PLN berkomitmen menjalankan setiap tahapan pengembangan PLTP Mataloko secara transparan, mengedepankan keselamatan, serta menghormati kearifan lokal.
“Kami memastikan seluruh proses dilakukan sesuai regulasi, berbasis kajian ilmiah, serta menggunakan teknologi terbaik. Dukungan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan energi bersih yang andal bagi NTT,” ujarnya.
Ia menambahkan, PLTP Mataloko merupakan bagian dari upaya transisi energi menuju sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Kami meyakini pembangunan harus berjalan seiring dengan pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Testimoni warga Desa Ulubelu menjadi bukti bahwa energi bersih dapat tumbuh berdampingan dengan kehidupan sosial dan budaya,” tutupnya.





