Pacu Bauran EBT, Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Nasional

JAKARTA, FN — Pemerintah terus memacu peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebagai strategi utama untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi energi yang berkelanjutan. Komitmen tersebut ditegaskan pemerintah dalam forum Energy Outlook 2026 yang diselenggarakan CNBC Indonesia di Jakarta.

Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa percepatan pengembangan EBT menjadi agenda prioritas Pemerintah guna memastikan ketersediaan energi yang andal, berdaya saing, dan rendah emisi. Upaya tersebut dilakukan melalui penambahan kapasitas pembangkit EBT, penguatan investasi, serta optimalisasi pemanfaatan bioenergi untuk meningkatkan porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional sesuai target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).

Bacaan Lainnya

“Target bauran energi dalam RUKN hingga berakhirnya RUPTL tahun 2034 sekitar 30 persen. Saat ini, bauran ketenagalistrikan telah mencapai 16,25 persen dan bauran energi nasional berada di angka 15,75 persen,” ujar Eniya pada Kamis (5/2).

Capaian bauran EBT pada tahun 2025 didukung oleh kontribusi sektor ketenagalistrikan sebesar 16,25 persen dengan total kapasitas terpasang pembangkit EBT sekitar 15,63 gigawatt yang didominasi pembangkit tenaga air, panas bumi, dan bioenergi. Captain ini ditargetkan terus meningkat pada tahun 2026 seiring percepatan pengembangan proyek EBT di berbagai wilayah.

Dari sisi investasi, sektor EBT menunjukkan kinerja yang positif dengan realisasi mencapai sekitar USD 2,28 miliar, melampaui target yang ditetapkan. Capaian ini terutama didorong oleh pengembangan panas bumi dan pembangkit listrik tenaga air. Pemerintah terus memperkuat iklim investasi melalui penyempurnaan regulasi dan mekanisme pengadaan, termasuk digitalisasi proses lelang panas bumi yang membuka akses lebih luas bagi investor nasional maupun internasional.

“Realisasi investasi EBT telah mencapai sekitar 2,28 miliar dolar AS dan melampaui target. Program biodiesel juga memberikan kontribusi nyata terhadap devisa, nilai tambah ekonomi, penyerapan tenaga kerja, serta penurunan emisi gas rumah kaca,” tambah Eniya.

Pemanfaatan bioenergi, khususnya melalui program biodiesel, turut memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional dan lingkungan. Program tersebut tercatat mampu meningkatkan devisa negara hingga sekitar Rp130 triliun, menciptakan nilai tambah ekonomi sebesar Rp20,4 triliun, serta menyerap tenaga kerja hingga mendekati dua juta orang.

“Melalui percepatan bauran energi terbarukan, Pemerintah ingin memastikan transisi energi berjalan inklusif, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional. Ini merupakan fondasi penting bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan energi ke depan,” pungkas Eniya.

Pos terkait