Anugerah Kebudayaan PWI 2026, Para Dewan Juri Terima Cenderamata Tenunan Songke Manggarai 

Bupati Manggarai Hery Nabit berfoto bersama usai presentasi seni dan budaya Manggarai dalam rangka Anugerah Kebudayaan PWI tahun 2026. Para dewan juri menerima cinderamata sesuai dengan berupa kain songket Manggarai. Foto: ist.

Jakarta, FokusNTT.com- Para dewan juri Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tahun 2026 menerima cenderamata berupa tenunan bermotif khas Songke Manggarai dalam rangkaian kegiatan penilaian Anugerah Kebudayaan PWI yang berlangsung di Jakarta.

Saat Bupati Manggarai Herybertus G. L. Nabit menyerahkan cinderamata berupa kain tenun songket tersebut, para dewan juri memilih sendiri warna dan coraknya.

Bacaan Lainnya

Penyerahan tenunan Songke Manggarai tersebut merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Kabupaten Manggarai sekaligus upaya memperkenalkan kekayaan budaya lokal kepada tokoh-tokoh nasional yang terlibat dalam proses penilaian Anugerah Kebudayaan PWI 2026.

Tenunan Songke Manggarai dikenal sebagai salah satu warisan budaya unggulan yang sarat nilai filosofis dan menjadi identitas masyarakat Manggarai.

Para dewan juri seperti

Dr. Nungki Kusumastuti menerima dan memilih tenunan Songke Manggarai bernuansa hijau yang merupakan warna favoritnya.

Juri lainnya yaitu Sujiwo Tedjo, seorang budayawan, memilih motif songke warna hitam sesuai dengan warna kesukaannya.

Juri Agus Dermawan T., Kurator Seni dan Budayawan, menerima tenunan Songke Manggarai berwarna merah marun yang melambangkan semangat dan kekuatan. Sementara itu Yusuf Susilo Hartono (Ketua Panitia Anugerah Kebudayaan PWI), menerima tenunan Songke Manggarai berwarna biru, yang melambangkan keteduhan, kepercayaan, dan kebijaksanaan.

Khusus untuk Kain Songke Manggarai yang diterima Dr. Nungki Kusumastuti memiliki motif bernuansa hijau, yang diketahui merupakan warna favoritnya. Hal tersebut semakin menambah kesan mendalam dan kebahagiaan penerima saat menerima cenderamata khas budaya Manggarai tersebut.

Dr. Nungki menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Ketua Dekranasda Manggarai dalam memperkenalkan dan melestarikan budaya lokal. Ia mengaku terkesan dengan keindahan motif Songke yang sarat makna filosofis serta mencerminkan identitas masyarakat Manggarai.

“Saya merasa senang dan bangga menerima kain Songke Manggarai ini, apalagi dengan warna hijau yang sangat saya sukai. Saya juga baru pertama kali menerima Tenunan daerah bernuansa hijau. Seolah-olah Ibu Ketua Dekranasda Manggarai mengetahui warna kesukaan saya. Kain ini bukan sekadar karya seni, tetapi juga representasi nilai budaya dan sejarah masyarakatnya,” ujar Dr. Nungki mengutip website Dinas Infokom Kabupaten Manggarai.

Menurutnya, pelestarian tenun tradisional seperti Songke merupakan bagian penting dari upaya menjaga identitas budaya bangsa di tengah dinamika modernisasi. Ia juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam membina perajin lokal melalui berbagai program penguatan ekonomi kreatif dan peran aktif Dekranasda.

Penyerahan cenderamata tenunan Songke Manggarai ini sekaligus menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Manggarai dalam melestarikan dan mempromosikan kebudayaan daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai, Robertus Bellarminus Nagut (Armin Bell) menyampaikan bahwa kehadiran Bupati Manggarai dalam rangkaian kegiatan Anugerah Kebudayaan PWI Pusat menjadi sebuah perjalanan budaya yang sangat mengesankan. Hal tersebut semakin bermakna karena Bupati Manggarai juga mendapat undangan khusus untuk menjadi narasumber dalam salah satu podcast di Jakarta.

Dalam podcast tersebut, Bupati Manggarai menjelaskan secara mendalam mengenai produk kerajinan tenunan Songke Manggarai yang merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Manggarai. Penjelasan tersebut tidak hanya menyoroti keindahan motif dan nilai filosofisnya, tetapi juga menegaskan peran tenun Songke sebagai identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif masyarakat lokal.***

Pos terkait