MANGGARAI TIMUR, FokusNTT.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan klarifikasi terkait video viral ambruknya hunian sementara (Huntara) bagi korban gempa Flores di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Klarifikasi tersebut disampaikan Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan (Pusdatinkom) BNPB, Berton SP Panjaitan, kepada media ini via WhatsApp, Selasa (22/9) malam.
Berton menjelaskan, bangunan yang ambruk diterjang gempa susulan magnitudo 5,3 pada Senin (21/9/2026) pagi itu bukan Huntara yang sudah selesai dibangun, melainkan rangka baja ringan yang masih dalam tahap instalasi.
“Rangka baja ringan huntara yang sedang didirikan di Ronting saat kejadian masih dalam tahap instalasi. Rangka tersebut belum dikunci secara keseluruhan dan belum dilakukan pengecoran/semen, sehingga memang belum dalam kondisi kokoh atau selesai konstruksi,” ujar Humas BNPB dalam penjelasannya.
BNPB menyebut, saat itu terjadi gempa berkekuatan magnitudo 5,2 dengan episentrum dekat lokasi dan kedalaman dangkal sekitar 10 km, sehingga rangka yang masih dalam proses pemasangan tersebut roboh.
“Jadi, yang roboh bukan huntara yang sudah selesai atau sedang dalam kondisi jadi, melainkan rangka baja ringan yang masih dalam tahap pendirian dan belum terkunci,” tegas Berton SP Panjaitan.
Klarifikasi ini menjawab video viral yang diunggah akun Facebook Nursia Har di Reels pada Senin (21/9/2026) siang. Video yang merekam setelah ambruknya Huntara di Kampung Rontiing, Desa Satar Kapas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur itu memicu sorotan publik.
Dalam video tersebut, seorang warga menyebut Huntara itu baru selesai dibangun tiga hari sebelumnya.
“Belum sampai tiga hari (setelah dibangun) sudah dirobohkan oleh gempa dengan kekuatan magnitudo 5,3 skala richter,” ujar warga pria dalam video.
Warga mengeluhkan kualitas bangunan yang dinilai asal jadi dan menduga komposisi campuran beton tidak sesuai standar, yakni 1:15. Warga pun mempertanyakan kelayakan Huntara tersebut untuk ditempati di tengah gempa susulan yang masih aktif.
Diketahui, gempa susulan yang memicu ambruknya rangka tersebut terjadi pada Senin, 21 September 2026, pukul 08:41:37 WITA, berpusat di darat 34 km Timur Laut Ruteng dengan koordinat 8,33 LS – 120,59 BT pada kedalaman 10 kilometer.
Huntara tersebut dibangun untuk korban gempa bumi Flores bermagnitudo 7,7 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 lalu. (aka)







