Bayu Risanto, Imam Katolik dan Ilmuwan Indonesia Dikukuhkan Jadi Nama Asteroid di Orbit Antara Mars dan Jupiter

Pastor Bayu Risanto SJ yang juga ilmuwan asal Indonesia. Berkat ketekunannya dalam ilmu pengetahuan khususnya asteroid, namanya diabadikan menjadi salah asteroid di orbit antara Mars dan Jupiter pada Selasa (13/1/2026) lalu.

Ruteng, FokusNTT.com- Indonesia bahkan dunia menjadi heboh di awal tahun 2026 ini. Pasalnya, seorang imam Katolik dari ordo Serikat Jesus yang juga seorang ilmuwan asal Indonesia, namanya diabadikan menjadi salah satu nama asteroid yang berada diantara planet Mars dan Jupiter.

Dia adalah Bayu Risanto yang secara resmi namanya menjadi nama sebuah asteroid yaitu (752403) Bayurisanto = 2015 PZ114.

Nama tersebut secara resmi tedaftar pada Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN), sebuah badan di bawah International Astronomical Union (IAU). 

Pengakuan nama Asteroid (752403) Bayurisanto diumumkan IAU, yang berkantor pusat di 98-bis Blvd Arago F–75014 Paris, Prancis, pada Selasa(13/1) lalu.

Sebagaimana tercantum di laman resmi Vatican Observatory, Bayu Risanto menempuh pendidikan lintas disiplin: mulai dari sains, meteorologi, hingga teologi. Ia meraih gelar Ph.D. dalam Atmospheric Sciences dari University of Arizona, dengan fokus pada numerical weather prediction dan pemodelan cuaca ekstrem. Latar belakang ini menjadikannya unik: seorang imam sekaligus ilmuwan yang bekerja pada irisan antara iman, sains, dan tanggung jawab ekologis.

Penelitiannya memiliki relevansi tinggi bagi kawasan tropis seperti Indonesia, di mana tantangan prakiraan hujan, banjir, dan cuaca ekstrem masih menjadi persoalan serius. Dengan pendekatan berbasis model dan data mutakhir, karyanya berkontribusi pada pengembangan sistem peringatan dini yang lebih akurat.

Tradisi Penamaan Asteroid

Dalam tradisi astronomi internasional, penamaan asteroid sering diberikan untuk menghormati ilmuwan, tokoh budaya, dan figur religius yang memberikan kontribusi signifikan bagi kemanusiaan.

Dalam daftar yang sama, tercantum pula nama-nama seperti Faustina, Ledochowska, dan Alabiano, yang masing-masing merujuk pada tokoh religius dan intelektual lintas zaman.

Masuknya nama Bayurisanto ke dalam katalog benda langit menempatkan ilmuwan Indonesia ini sejajar dengan figur-figur dunia yang kontribusinya diakui melampaui batas negara dan disiplin ilmu. Ia menjadi contoh bagaimana kerja ilmiah yang tekun, senyap, dan berbasis pelayanan dapat memperoleh pengakuan universal.

Sains, Iman, dan Tanggung Jawab Global

Observatorium Vatikan sendiri secara konsisten menegaskan bahwa penelitian ilmiah tidak bertentangan dengan iman, melainkan memperkaya pemahaman manusia akan ciptaan.

Kehadiran Bayu Risanto di lembaga ini sekaligus memperkuat pesan bahwa Gereja Katolik tetap aktif dalam dialog sains modern, termasuk isu perubahan iklim dan keberlanjutan bumi.

Dengan asteroid yang kini menyandang namanya, Bayu Risanto tidak hanya menorehkan prestasi personal, tetapi juga membawa nama Indonesia ke peta langit—sebuah simbol bahwa kontribusi intelektual dari Selatan Global memiliki tempat yang diakui dalam sejarah sains dunia.

Profil Bayu Risanto SJ 

Lantas, siapakah sosok Pastor Bayu Risanto yang  diabadikan menjadi nama asteroid di alam semesta.

Dilansir dari berbagai sumber, Christoforus Bayu Risanto lahir pada bulan Januari 1981 di Bogor, Jawa Barat.

Bayu tumbuh dan bersekolah di kota hujan tersebut hingga tahun 1996 ketika masuk seminari menengah St. Petrus Kanisius di Magelang, Indonesia.

Setelah lulus dari seminari menengah, dia bergabung dengan Serikat Jesus (SJ) pada tahun 2000 dan memulai studi filsafatnya pada 2003.

Tesisnya dalam bidang filsafat adalah pemahaman waktu dalam matematika-fisika Newtonian dan Einsteinian serta dampaknya terhadap epistemologi.

Sosok peneliti di Vatican Observatory itu mengajar fisika senior, geometri mahasiswa tahun kedua, dan sains umum mahasiswa tahun pertama selama dua tahun (2007–2009) di Sekolah Menengah Atas Xavier, Negara Federasi Mikronesia sebelum menyelesaikan gelar masternya dalam teologi pada tahun 2012.

Setelah ditahbiskan sebagai presbiteral tahun 2012, Bayu ditugaskan melanjutkan studi meteorologi dan klimatologi di University of Arizona Amerika Serikat. Dia meraih gelar Ph.D. dengan dukungan proyek riset dari UNAM (Meksiko) dan KAUST (Arab Saudi).

Penghargaan Bayu Risanto

Setelah lulus, Bayu terus bekerja di Universitas Arizona sebagai rekanan peneliti pascadoktoral. Dia juga tercatat menerima penghargaan Beasiswa Krider Endowment 2020, Hibah Perjalanan GPSC 2019, Beasiswa Departemen Hidrologi dan Atmosfer 2018, serta Galileo Circle Scholarship 2018 dari University of Arizona.

Sejak Juli 2024, Bayu bergabung dengan Vatican Observatory, lembaga riset astronomi tertua di dunia.

Dia tertarik pada prediksi cuaca numerik (NWP) di lingkungan semi-kering hingga gersang dan medan yang kompleks. Fokus riset pada pencarian solusi untuk meningkatkan prakiraan curah hujan melalui pendekatan asimilasi data dan pemodelan ansambel.

Masyarakat Indonesia patut berbangga, karena pastor Bayu Risanto telah mengharumkan nama Indonesia di dunia sains sekaligus menunjukkan bahwa kita memiliki ilmuwan kelas dunia.

(*/aka)