Kemarau dan Saluran Primer Jebol, Hasil Panen di Ulungali Anjlok Drastis, Petani Terancam Gagal Tanam

Kondisi persawahan di desa persiapan Ulungali, Kecamatan Satar Mese saat ini. Pada musim tanam II tahun 2026, hasil panen padi turun drastis, dan memasuki musim tanam III, para petani tidak bisa menanam akibat kemarau dan saluran primer irigasi jebol.

MANGGARAI, FokusNTT.com- Petani di Desa Persiapan Ulungali, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami kerugian akibat anjloknya hasil panen pada Musim Tanam (MT) II. Penyebabnya adalah kemarau panjang ditambah jebolnya saluran primer Daerah Irigasi (DI) Wae Mantar I.

Tak hanya anjlok pada MT II, petani di wilayah itu juga dipastikan gagal tanam pada MT III September-Desember 2026.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pantauan, areal sawah seluas lebih dari 82 hektare di kawasan tersebut mengering dan hanya menyisakan rumput dan jerami kering di areal sawah.

Petani yang sempat menanam pada MT II mengaku kecewa karena air irigasi tidak mengalir maksimal.

Ketua Kelompok Tani Ulungali Baru, Stanislaus Petor, mengatakan penurunan hasil panen tidak hanya disebabkan berkurangnya debit air DI Wae Mantar I saat puncak kemarau, tetapi juga karena jebolnya saluran primer yang mengaliri sawah mereka.

Adapun saluran irigasi yang jebol sepanjang 15 meter. “Saluran primer yang jebol itu terletak di Desa Ponggeok, di sebelah utara Desa Persiapan Ulungali,” jelas Stanislaus.

Menurut Stanislaus, saluran tersebut jebol sejak awal tahun 2026 dan hingga kini belum diperbaiki secara permanen oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) NTT. Ia menyebut titik tersebut kerap jebol akibat ulah petani dari wilayah lain yang sengaja membobol saluran.

“Sepanjang tahun, petani yang hamparan sawahnya di sekitar saluran itu sengaja menjebol saluran. Padahal ada saluran sekunder yang mengalirkan air ke sawah mereka,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kondisi darurat itu, petani Desa Persiapan Ulungali terpaksa bergotong royong memperbaiki saluran dengan bahan seadanya.

Senada, petani lainnya, Konradus, mengakui hasil panen MT II sangat rendah. Jika normalnya bisa mencapai beberapa ton, kini hanya berkisar 0,4 hingga 0,8 ton gabah per hektare.

Ia menjelaskan, berkurangnya air DI Wae Mantar I terjadi saat padi memasuki fase bunting hingga fase reproduktif.

“Begitu air berkurang karena puncak kemarau dan jebolnya saluran irigasi, tanaman padi seperti terbakar,” kata Konradus.

Akibatnya, petani di wilayah tersebut tidak bisa melanjutkan tanam pada MT III.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Satar Mese, Blasius Badur, yang dikonfirmasi pada Kamis (10/9) siang, membenarkan anjloknya hasil panen di Desa Persiapan Ulungali.

Ia merinci, pada MT I 2026 hasil panen masih mencapai 5 ton per hektare, sementara pada MT II turun drastis menjadi hanya 0,8 ton per hektare.

Blasius menyarankan petani agar tidak memaksakan tanam sebelum hujan turun.

Mewakili petani Ulungali, Stanislaus dan Konradus berharap pemerintah segera memperbaiki saluran primer yang jebol tersebut sebelum memasuki musim tanam berikutnya.

“Sudah sekian lama kami sampaikan kepada pemerintah terkait agar saluran irigasi yang jebol itu diperbaiki. Namun hingga saat ini belum diperbaiki juga,” pungkas Stanislaus.

Sementara pihak Stasiun Meteorologi Bandara Frans Sales Lega yang dikonfirmasi terkait prakiraan cuaca  menjelasakan, untuk prediksi kondisi iklim NTT tahun ini memamng diperkirakan memilki musim kemarau yang lebih panjang dari tahun sebelumnya. Namun untuk informasi lebih lengkapnya, pihak Stasiun Meteorologi Bandara Frans Sales Lega sedang mintakan ke stasiun Klimatologi Kupang terkait kondisi iklim di wilayah NTT. (aka)

Pos terkait