MANGGARAI TIMUR, FokusNTT.com – Warga Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, meluruskan informasi viral di media sosial yang menyebut warga membakar bantuan untuk korban gempa.
Banyak video beredar yang memperlihatkan kobaran api di depan Kantor Camat Lamba Leda. Warganet pun mengecam warga Lamba Leda karena dinilai tidak bersyukur. Informasi tersebut juga dikutip oleh sejumlah media online dan mainstream.
Salah seorang warga Desa Tengku Leda, Nur Aini, memberikan klarifikasi melalui akun Facebook pribadinya dan kepada media ini.
Menurut Nur Aini, peristiwa itu bukan aksi pembakaran bantuan sembako, melainkan pelampiasan kekecewaan warga atas batalnya kunjungan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Kronologi Versi Warga
Kejadian bermula pada pagi hari. Atas perintah kepala desa yang meneruskan instruksi dari pihak kecamatan, warga terdampak gempa dari Desa Tengku Leda dan Desa Persiapan Compang Leda diminta berkumpul di posko yang berada di halaman Kantor Camat Lamba Leda.
Warga diinformasikan akan ada kunjungan Gubernur Jawa Timur bersama rombongan dan layanan dukungan psikososial dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur.
“Sejak pagi warga sudah berkumpul, mulai dari lansia hingga anak balita. Bahkan warga yang datang tanpa anak diminta pulang untuk menjemput anaknya. Ada penyintas dengan tangan patah akibat tertimpa reruntuhan juga turut hadir,” tulis Nur Aini.
Warga menunggu sejak pagi hingga lewat waktu Dzuhur tanpa ada kejelasan. Sempat ada informasi rombongan gubernur singgah di Posko Desa Lamba Keli yang tidak jauh dari kantor camat.
Setelah itu, seorang perempuan yang disebut dari pihak terkait datang dan mengajak anak-anak berkumpul untuk kegiatan. Namun kegiatan belum sempat berjalan, perempuan tersebut pergi begitu saja tanpa penjelasan dan meninggalkan mainan anak-anak di lokasi.
Warga kemudian menghubungi kerabat di Posko Lamba Keli dan mendapat informasi bahwa rombongan Gubernur Jatim sudah kembali ke Borong bersama Bupati Manggarai Timur.
“Mendapati informasi itu warga merasa sangat kecewa dan marah. Kami merasa ditipu dan dibohongi,” ujar Nur Aini.
Amarah warga kemudian tertuju pada Camat Lamba Leda yang dinilai tidak mampu berkoordinasi dan berkomunikasi. Puncaknya, warga membakar tenda pengungsian milik BPBD yang ada di lokasi tersebut.
“Itu tenda baru dipasang pagi itu, entah untuk apa dan siapa. Selama ini di depan kantor camat hanya ada 1 tenda posko milik Desa Compang Leda. Kalau dibilang tenda itu pencitraan supaya ada kesan ada bantuan, ya begitu kenyataannya,” kata Nur Aini.
Ia mengaku tidak melihat langsung siapa yang memulai pembakaran karena sudah pulang dan kembali setelah mendengar keributan. Saat tiba, sudah ada asap hitam mengepul.
“Saya kira yang dibakar kursi, ternyata ada tambahan ban mobil bekas yang ikut dibakar,” jelasnya. Ia juga menunjukkan foto baliho bertuliskan ‘Layanan Dukungan Psikososial Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur’ yang disebutnya sebagai yang ditunggu warga.
Tanggapan dan Klarifikasi
Nur Aini menegaskan, narasi yang menyebut kericuhan terjadi karena berebut bantuan adalah hoax.
“Catatan: apabila ada postingan yang mengatakan kericuhan karena berebut bantuan itu hoax. Hanya postingan manusia tidak bertanggung jawab yang memperkeruh suasana tanpa tahu runtut permasalahannya,” tulisnya.
Ia juga menyayangkan hujatan warganet yang menyebut warga Lamba Leda tidak tahu berterima kasih dan miskin.
Setelah kejadian, pihak kecamatan datang dan menyampaikan permintaan maaf kepada warga. Teriakan “pulang.. pulang sudah..” yang terdengar dalam video viral, menurut Nur Aini, adalah upaya membubarkan kerumunan karena banyak anak kecil, ibu-ibu, dan lansia di sekitar lokasi pembakaran saat camat dan aparat keamanan datang.
Media ini berupaya untuk menghubungi Penjabat Sementara Kepala Desa Persiapan Compang Leda, Agustinus Song via nomor Whatsapp-nya. Sekalipun dihubungi melalui panggilan telepon aplikasi whatsapp maupun pesan tertulis, media ini belum mendapatkan jawaban hingga berita ini tayangkan.
Sesuai penjelasan Polres Matim
Informasi yang disampaikan Nur Aini ini hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh pihak Polres Manggarai Timur.
Berdasarkan berita sejumlah media, pihak Polres Manggarai Timur menjelaskan, ada peristiwa sebelum dua tenda dibakar warga.
“Diduga dipicu oleh kekecewaan warga atas batalnya kunjungan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa di posko depan Kantor Camat Lamba Leda,” kata Kasat Reskrim Iptu Ahmad Zacky Shodri.
Kedua tenda yang menjadi sasaran merupakan fasilitas pengungsian yang didirikan BNPB.
Kronologinya menurut polisi: warga sudah menunggu sejak sehari sebelumnya karena dapat info dari pihak kecamatan bahwa rombongan Khofifah akan datang ke posko itu. Ternyata rombongan hanya ke Desa Lamba Keli lalu lanjut ke Labuan Bajo, tidak ke posko camat. Setelah itu protes pecah dan 2 tenda dibakar. (aka)







