MANGGARAI, FN- Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng kembali menegaskan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan sumber daya manusia di Nusa Tenggara Timur melalui pengukuhan dua guru besar baru dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa yang berlangsung di Aula Unika Santu Paulus Ruteng, Jumat, 08/05/2026.
Kegiatan akademik tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama Kepala LLDIKTI Wilayah XV Prof. Dr. Adrianus Amheka, unsur Forkopimda Provinsi NTT, Bupati dan Wakil Bupati Manggarai, Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat, pimpinan perguruan tinggi, para dosen, tokoh agama, serta civitas akademika.
Dua akademisi yang resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar yakni Prof. Dr. Maksimus Regus, dalam bidang kepakaran Sosiologi Agama dan Multikulturalisme, serta Prof. Dr. Sabina Ndiung, dalam bidang Pembelajaran Matematika Pendidikan Dasar dan Asesmen Pembelajaran Matematika Pendidikan Dasar.
Dalam sambutannya, Gubernur NTT menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada kedua Guru Besar yang dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan sumber daya manusia di Nusa Tenggara Timur.
“Atas nama masyarakat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan selamat dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada dua putra-putri terbaik NTT yang hari ini dikukuhkan sebagai Guru Besar,” ujar Gubernur Melki Laka Lena.
Ia menegaskan, pengukuhan tersebut bukan hanya pencapaian akademik personal, tetapi juga menjadi penanda penting perjalanan intelektual NTT yang mampu melahirkan pemikiran-pemikiran berdaya saing nasional maupun global.
Gubernur NTT juga menyoroti tema sidang ilmiah, yakni “Menavigasi Ketidakpastian: Integrasi Nilai Iman dan Kecerdasan Logis yang Menggembirakan”.
Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan tantangan zaman yang ditandai perubahan sosial cepat, disrupsi teknologi, hingga krisis nilai dan pendidikan.
“Di tengah ketidakpastian itu, kita diingatkan bahwa ada dua kekuatan besar yang dapat menjadi penuntun: iman yang memberi makna, dan kecerdasan logis yang memberi arah,” katanya.
Gubernur Melki Laka Lena juga memberikan perhatian khusus terhadap kiprah akademik Prof. Maksimus Regus dalam bidang sosiologi agama dan multikulturalisme.
Ia menyebut pemikiran Prof. Maksimus tentang keberagaman, keadilan sosial, dan kemanusiaan menjadi kontribusi penting bagi pembangunan masyarakat yang inklusif dan berkeadaban.
“Pemikiran beliau tentang Gereja sebagai kekuatan sosial profetik mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada teori.
Ilmu harus hadir dalam kehidupan nyata membela martabat manusia, memperjuangkan keadilan sosial, dan memberi perhatian kepada masyarakat kecil serta kelompok pinggiran,” ungkapnya.
Sementara itu, terhadap Prof. Sabina Ndiung, Gubernur menilai kontribusinya dalam pengembangan etnopedagogi dan etnomatematika berbasis budaya lokal sangat penting bagi dunia pendidikan.
Pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan budaya lokal dinilai mampu memperkuat identitas, karakter, serta meningkatkan kualitas pembelajaran peserta didik.
“Kontribusi pemikiran beliau memberi pesan yang sangat mendalam: bahwa pendidikan yang maju tidak harus tercerabut dari akar budaya. Justru dari budaya lokal itulah lahir kepercayaan diri, identitas, dan karakter generasi muda NTT,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gubernur menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT memandang dunia akademik sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Menurutnya, berbagai tantangan pembangunan membutuhkan dukungan riset, inovasi, dan pemikiran yang lahir dari perguruan tinggi.
Karena itu, keberadaan Unika Santu Paulus Ruteng dan institusi pendidikan tinggi lainnya di NTT dinilai memiliki peran penting sebagai pusat pendidikan, pusat peradaban, dan laboratorium gagasan bagi masa depan daerah.
“Kita membutuhkan lebih banyak pemikir seperti Prof. Maksimus Regus yang berani bersuara untuk keadilan, dan lebih banyak pendidik seperti Prof. Sabina Ndiung yang berani mengakar pada budaya sendiri,” tutupnya.
Menutup sambutannya, Gubernur NTT mengajak seluruh pihak menjadikan momentum pengukuhan Guru Besar tersebut sebagai refleksi bersama untuk membangun NTT melalui penguatan pengetahuan, karakter, dan kebersamaan.







