PLN Libatkan Tokoh Adat dalam Pengembangan Energi Panas Bumi di Flores

FLORES, FN- PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) menegaskan komitmennya untuk melibatkan tokoh adat dan masyarakat lokal dalam proses pengembangan energi panas bumi (geothermal) di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pendekatan budaya terus dikedepankan PLN melalui dialog, sosialisasi, hingga pelaksanaan prosesi adat sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang berkelanjutan dan selaras dengan kehidupan masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

Sementara di tengah proses dialog dan sosialisasi yang terus dilakukan, sejumlah tokoh masyarakat mulai memahami manfaat pengembangan energi panas bumi sebagai sumber energi bersih untuk mendukung kebutuhan listrik sekaligus masa depan daerah.

Warga Poco Leok, Kabupaten Manggarai, Tadi Sudapang, mengaku awalnya tidak terlalu memperhatikan aktivitas pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di wilayahnya. Namun, ketika polemik mulai muncul pada 2021, ia terdorong mencari tahu secara langsung mengenai geothermal.

“Tahun 2022 saya mengikuti kegiatan tabe gendang yang dihadiri teman-teman PLN di Poco Leok. Awalnya saya datang bukan sebagai pendukung ataupun penolak, saya hanya ingin memahami sebenarnya geothermal itu seperti apa,” ujarnya.

Melalui berbagai dialog dan sosialisasi yang diikutinya, Tadi mulai memahami proses pengembangan geothermal, termasuk upaya PLN dalam menjaga budaya dan ruang hidup masyarakat setempat.

“Saya akhirnya memahami bahwa pembangunan ini juga berupaya menghormati budaya masyarakat. Karena itu saya mencoba menjelaskan kembali kepada keluarga dan warga lain yang masih ragu,” katanya.

Hal senada disampaikan Ketua Gendang Desa Wewo, Hendrikus Ampak. Menurutnya, pemahaman masyarakat mulai terbentuk setelah memperoleh penjelasan langsung dari berbagai pihak, termasuk para ahli geothermal.

“Setelah sosialisasi dan penjelasan dari para ahli, kami mulai memahami bahwa geothermal merupakan energi bersih yang dapat menjadi solusi penyediaan listrik jangka panjang,” ujarnya.

Ia juga mengingat masa ketika banyak wilayah di Flores masih mengalami keterbatasan akses listrik dan masyarakat bergantung pada lampu pelita untuk penerangan sehari-hari.

“Setelah pembangunan berjalan dan pembangkit mulai beroperasi, kami akhirnya merasakan langsung manfaatnya. Kampung kami menjadi terang dan pasokan listrik di Flores semakin baik,” tambah Hendrikus.

Sementara itu, tokoh adat Desa Dadawea Mataloko, Kabupaten Ngada, Leonardus Bhara, mengatakan proses pengembangan geothermal di daerahnya juga dilakukan melalui pendekatan budaya dan adat setempat.

Menurut Leonardus, proses pelepasan lahan dilaksanakan melalui mekanisme adat sebagai bentuk penghormatan terhadap masyarakat dan tanah ulayat.

“Kami melaksanakan prosesi adat bersama masyarakat dan tuan tanah sebelum pembangunan berjalan. Semua dilakukan secara terbuka dan melibatkan tokoh adat,” jelasnya.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto.Rizki mengatakan bahwa, PLN memahami bahwa pengembangan energi baru terbarukan, termasuk geothermal, tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut aspek sosial, budaya, dan kepercayaan masyarakat.

“PLN terus mengedepankan pendekatan dialog, sosialisasi, serta keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pengembangan geothermal. Kami ingin pembangunan energi bersih ini berjalan selaras dengan budaya lokal dan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Rizki.

Ia juga menambahkan, PLN akan terus membuka ruang komunikasi bersama masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah agar pengembangan geothermal di Flores dapat berjalan berkelanjutan serta menjadi fondasi bagi kemandirian energi di Nusa Tenggara Timur.

 

Pos terkait