Empat Dekade Terlupakan, PLN Akhirnya Wujudkan Pembangunan Gendang Gonggor

MANGGARAI, FN- Penantian panjang masyarakat adat di Gendang Gonggor, Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai akhirnya berbuah nyata.

Setelah hampir empat dekade hidup dalam keterbatasan dan minim perhatian pembangunan, kini harapan itu terwujud berkat kehadiran PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Bacaan Lainnya

Bahkan, tuntasnya pembangunan Rumah Adat Gendang Gonggor ini menjadi penanda kuat hubungan antara masyarakat adat hingga PT PLN memperoleh pengakuan kultural berupa penganugerahan status “ase kae” (saudara) dari masyarakat adat setempat.

Tua Adat Gendang Gonggor, Stefanus Angkut, menyebut penganugerahan tersebut sebagai simbol penerimaan dan penghormatan masyarakat adat terhadap kepedulian PLN dalam menjaga warisan budaya lokal.

“Sekarang kami semua warga gendang menganggap PLN UIP Nusra sebagai ase kae ca bantang, satu bagian dari keluarga besar Gendang Gonggor,” ujar Stefanus

Ia menjelaskan, kedekatan ini juga tumbuh seiring keterlibatan PLN di wilayah tersebut, termasuk keberadaan lahan untuk mendukung pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Poco Leok.

“Rumah adat Gendang Gonggor hampir 42 tahun tidak pernah diperhatikan. Pembangunan ini bisa terwujud berkat bantuan PLN. Karena itu, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya,” kata Stefanus.

Menurutnya, Rumah Adat Gonggor memiliki peran sentral sebagai ruang musyawarah adat, tempat pelaksanaan ritus tradisional, sekaligus simbol identitas budaya bagi generasi mendatang.

Dengan rampungnya pembangunan ini, rumah adat kini kembali dapat difungsikan secara layak dan aman sebagai pusat aktivitas sosial budaya masyarakat.

Apresiasi terhadap inisiatif tersebut juga disampaikan Bupati Manggarai, Herybertus Nabit.

Ia menilai program TJSL PLN sebagai bentuk investasi budaya yang strategis bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat.

“Pengembangan budaya Manggarai menjadi perhatian melalui bantuan pembangunan rumah adat yang memiliki fungsi penting dalam kehidupan sosial masyarakat,” ujar Nabit.

Ia menambahkan, revitalisasi rumah adat merupakan langkah penting untuk menghidupkan kembali perannya sebagai jantung kehidupan sosial masyarakat Manggarai.

Kolaborasi antara PLN dan masyarakat pun dinilai menjadi kunci percepatan pembangunan daerah.

“Semangat kolaborasi yang dilandasi saling pengertian dan gotong royong adalah strategi terbaik untuk mendorong kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa pembangunan Rumah Adat Gendang Gonggor merupakan bagian dari komitmen PLN untuk tumbuh bersama masyarakat melalui pelestarian budaya dan pemberdayaan sosial di sekitar wilayah operasional.

“PLN hadir dan berjalan bersama masyarakat, dengan menghormati nilai-nilai adat yang telah mengakar kuat. Pembangunan rumah gendang ini menjadi wujud nyata kepedulian PLN terhadap kelestarian warisan budaya Manggarai,” ungkap Rizki.

Ke depan, PLN UIP Nusra berkomitmen memperluas kolaborasi dengan komunitas adat, pemerintah daerah, serta lembaga pendidikan dalam mengembangkan program sosial berbasis budaya dan kearifan lokal, sehingga setiap langkah pembangunan energi di Nusa Tenggara Timur dapat memberikan manfaat yang inklusif dan berkelanjutan.

Pos terkait