Kisah Pengungsi Gempa M7,7 di Dampek Manggarai Timur: Takut, Bertahan, dan Berharap Bantuan
MANGGARAI TIMUR, FN- Seminggu pasca gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores, 15 Agustus 2026, warga Dampek di Lamba Leda Utara masih memilih tenda sebagai rumah. Di balik tenda darurat itu ada cerita takut saat gempa susulan, duka kehilangan, tapi juga keteguhan untuk bertahan.
Di Posko Wae Ciu, 108 jiwa dari 48 KK tidur berdesakan. Makan seadanya, tidur tidak nyenyak, dan setiap getaran kecil membuat mereka lari keluar. Di tengah keterbatasan itu, satu hal yang terus mereka gantungkan: bantuan dan rasa aman untuk kembali ke rumah.
Perjalanan Menuju Dampek
Senin, 17 Agustus 2026 pukul 08.30 WITA, perjalanan dari Ruteng menuju Dampek dimulai. Jalan yang biasanya cepat menjadi panjang karena di sepanjang rute Ruteng hingga Reo terlihat jelas dampak gempa.
Pukul 12.05 WITA tiba di Dampek. Pemandangan pertama: rumah warga retak, atap ambruk, dinding roboh. Di tengah puing itu terdengar tangisan keluarga yang kehilangan orang tercinta.
Sepanjang jalan, tenda darurat berdiri berderet. Warga memilih keluar dari rumah karena masih dihantui gempa susulan.
Hidup di Posko Wae Ciu
Posko Darurat Wae Ciu di Desa Satar Padut menjadi tempat bermalam. Di sini ada 48 kepala keluarga atau sekitar 108 jiwa. Ada lansia, orang dewasa, anak-anak hingga bayi.
Mereka berbagi tempat tidur, makanan, cerita, dan kekhawatiran. Hari-hari pertama terasa berat. Syok dan panik masih menguasai.
Lama-kelamaan warga mulai beradaptasi. Saat gempa susulan datang, kepanikan sudah tidak separah awal. Sebagian warga berani pulang ke rumah di siang hari, lalu kembali ke tenda saat malam. Ada juga yang mulai tidur di rumah karena merasa keadaan sedikit membaik.
Kehidupan di posko serba sederhana. Makan seadanya, kadang tanpa lauk. Porsi pun tak seperti biasanya. Tidur tidak nyenyak. Getaran kecil saja membuat warga terbangun. Para ibu bergantian memasak dengan bahan seadanya.
Namun di tengah keterbatasan itu muncul tawa dan candaan. Warga saling menguatkan. Rasa takut perlahan berubah jadi keberanian untuk menjalani hari.
Gempa Susulan Kembali Memporak-porandakan
Ketenangan itu tidak lama.
Rabu, 19 Agustus 2026 pukul 12.30 WITA, gempa susulan mengguncang. Warga berhamburan keluar. Pusat gempa disebut hanya 10 kilometer dari posko sehingga guncangannya terasa sangat kuat.
Keesokan harinya, Kamis 20 Agustus 2026, gempa besar kembali terjadi. Rasa takut semakin besar. Beberapa kali susulan membuat warga kembali panik dan lari tunggang langgang.
Kerusakan rumah pun bertambah. Melihat rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh kini roboh, kesedihan warga semakin dalam. Tenda darurat kini dianggap tempat paling aman.
Harapan dari Langit
Persoalan lain muncul: kebutuhan pokok menipis. Stok makanan dan air minum mulai berkurang.
Saat helikopter melintas, warga sempat bersorak. Mereka berharap bantuan datang. Namun helikopter hanya lewat. Harapan kembali pupus dan suasana hening lagi.
Kini para pengungsi hidup dalam ketidakpastian. Rumah tak aman, tenda jadi rumah, logistik menipis, dan gempa susulan masih terus terjadi.
“Mereka berharap ada uluran tangan. Bantuan bukan hanya soal makanan dan minuman. Bantuan adalah harapan untuk tetap bertahan,” kata salah satu warga.
Di bawah tenda-tenda darurat itu, para pengungsi hanya bisa saling menguatkan. Mereka bermimpi suatu hari bisa kembali ke rumah, membangun kembali kehidupan, dan tidur tanpa dihantui suara gempa yang datang tiba-tiba. (yunt teguh)






