PLN UIP Nusra Berdayakan Petani Desa Wewo Melalui Program Hortikultura Berkelanjutan

MANGGARAI, Fokusntt.com- PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus mempertegas perannya sebagai penggerak pembangunan berkelanjutan. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) berbasis pemberdayaan masyarakat di sektor pangan, perusahaan mengintegrasikan pengembangan budidaya hortikultura di sekitar kawasan PLTP Ulumbu Unit 5-6 Poco Leok sebagai bagian dari strategi sistematis untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus mendorong kemandirian ekonomi wilayah operasional.

 

Bacaan Lainnya

Pelaksanaan program dirancang dengan pendekatan pendampingan terstruktur. Selain menyediakan bantuan sarana produksi, PLN menurunkan tenaga pendamping yang secara konsisten memantau siklus kegiatan kelompok tani, mulai dari penyemaian benih, perawatan tanaman, hingga intervensi strategis membuka akses pemasaran yang lebih luas.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan arah kebijakan ini sebagai wujud komitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah kerja.

“Program hortikultura ini menjadi salah satu upaya pemberdayaan masyarakat agar lebih mandiri, produktif, serta memiliki ketahanan pangan yang kuat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa PLN akan terus memperkuat berbagai program pemberdayaan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi lokal, sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

 

Sinergi dengan pemerintah daerah menjadi penguat utama dalam tata kelola program ini. Bupati Manggarai, Herybertus Nabit, menilai inisiatif budidaya hortikultura mampu mendorong masyarakat menjadi lebih produktif dalam memanfaatkan lahan terbatas.

“Membangun Manggarai adalah strategi terbaik untuk mempercepat tercapainya kesejahteraan. Dalam kondisi keterbatasan fiskal saat ini, kontribusi setiap pihak akan memberikan dampak yang signifikan,” ujar Nabit.

Ia menambahkan bahwa program ini berperan penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemanfaatan lahan yang sebelumnya belum dikelola secara optimal. Ia juga berharap masyarakat dapat menjaga keberlanjutan program melalui komunikasi dan kolaborasi yang baik.

 

Di tingkat implementasi, efektivitas program telah terukur melalui indikator ekonomi yang cepat kembali. Sakarias, salah satu penerima manfaat, mengungkapkan bahwa program budidaya hortikultura tersebut telah memberikan manfaat signifikan bagi masyarakat, tidak hanya pada tahap pengolahan lahan, tetapi juga hingga pemasaran hasil panen.

 

Kecepatan siklus panen juga menjadi faktor kunci keberhasilan model budidaya ini. Karolus mencontohkan bahwa jenis tanaman sayur seperti fanbox dan pakcoy menjadi komoditas paling menguntungkan dengan masa panen yang relatif singkat, hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan sejak penanaman hingga siap dipanen dan dipasarkan.

“Panen pertama saya sebanyak 500 pohon fanbox dengan harga jual Rp6.000 per pohon, sehingga memperoleh Rp3 juta. Dari pakcoy, saya juga mendapatkan sekitar Rp2 juta dalam satu bulan,” kata Karolus.

Dari hasil penjualan pertama tersebut, kelompok tani mampu meraup pendapatan sebesar Rp5 juta, belum termasuk kontribusi dari komoditas lain seperti mentimun dan tomat.

“Ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk menikmati hasilnya, dan ini benar-benar kami rasakan,” tambahnya.

Melalui integrasi antara strategi korporasi, dukungan kebijakan daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, program hortikultura PLN di Manggarai telah membuktikan bahwa model TJSL berbasis pemberdayaan dapat dioperasionalkan secara terukur, responsif terhadap kebutuhan lokal, dan selaras dengan target pembangunan berkelanjutan jangka panjang.

Pos terkait