Islamic Relief Indonesia Salurkan 300 Paket Bantuan ke Wilayah Sulit Akses di Cibal Barat

Bantuan Islamic Relief Indonesia untuk korban gempa bumi M 7,7, untuk Kecamatan Cibal Barat.

RUTENG, FokusNTT.com- Pemerintah Kabupaten Manggarai menyampaikan apresiasi kepada Islamic Relief Indonesia atas komitmennya membantu korban gempa bumi M 7,7, terutama di wilayah sulit akses di Kecamatan Cibal Barat.

Di tengah tantangan geografis, keterbatasan jaringan komunikasi, dan jalur longsor, Islamic Relief Indonesia tetap berupaya menjangkau warga terdampak.

Bacaan Lainnya

Sebanyak 300 paket bantuan kemanusiaan disalurkan kepada keluarga yang sangat terdampak di 10 desa se-Kecamatan Cibal Barat pada Jumat, 28 Agustus 2026. Penyaluran dipusatkan di dua titik, yakni di Desa Compang Cibal dan di Kantor Camat Cibal Barat.

Camat Cibal Barat, John Regon, menjelaskan bantuan tersebut diprioritaskan bagi keluarga dengan kriteria rumah rusak berat dan memiliki anggota keluarga kelompok rentan.

“Paket yang diterima adalah keluarga yang sangat terdampak, dengan kriteria rumah rusak berat. Kemudian diprioritaskan juga yang anggota rumah tangganya terdapat kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, ibu menyusui, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan lainnya,” jelas John Regon.

Ia menambahkan, pendataan penerima dilakukan oleh enumerator lokal yang telah mendapat pelatihan singkat dari Tim Islamic Relief.

Penetapan Cibal Barat sebagai wilayah sasaran dilakukan melalui koordinasi dengan Pemkab Manggarai, BPBD, dan Sekretariat Daerah. Rekomendasi pemerintah daerah kemudian diverifikasi di lapangan melalui data sekunder, koordinasi dengan kecamatan dan desa, serta pendataan rumah tangga untuk mencegah duplikasi bantuan.

Tantangan akses menjadi kendala utama dalam proses distribusi. Hal ini diakui oleh Dzikri Insan dari Islamic Relief Indonesia.

“Perjalanan menuju beberapa komunitas di wilayah ini menunjukkan bahwa akses merupakan bagian dari tantangan respons itu sendiri. Ada lokasi yang sulit dijangkau dan jalur yang terdampak longsor. Tetapi masyarakat yang tinggal jauh atau sulit diakses tidak boleh tertinggal hanya karena lokasi mereka. Prinsip kami sederhana: bantuan harus berusaha menjangkau mereka yang paling membutuhkan,” ujar Dzikri.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah kecamatan, desa, enumerator, relawan, dan masyarakat setempat.

Sementara itu, melalui Posko Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi, Pemkab Manggarai terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, provinsi, lembaga kemanusiaan, dunia usaha, dan relawan. Pemkab juga terus melakukan pemutakhiran data, pemetaan wilayah terdampak, dan pemantauan kondisi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Manggarai berharap kolaborasi lintas pihak ini terus diperkuat agar tidak ada warga terdampak yang tertinggal, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga proses pemulihan pascabencana. (*)

Pos terkait