Mengenal KRI dr. Soeharso-990: RS Terapung yang Kini Siaga untuk Korban Gempa Flores

Penampakan luar KRI dr Soeharso sebagai rumah sakit terapung milik TNI AL. Foto: ist

Catatan Redaksi

Kapal bantu rumah sakit KRI dr. Soeharso-990 milik TNI Angkatan Laut tiba di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT pada Jumat (21/8/2026), berlayar dari Surabaya untuk memperkuat penanganan medis darurat akibat gempa bumi bermagnitudo 7,7. Dalam sehari atau hingga Sabtu (22/8/2026), kapal ini telah melayani 21 pasien korban gempa. Tindakan yang diberikan meliputi operasi bedah tulang, penanganan luka robek akibat reruntuhan, rawat jalan, dan 3 pasien rawat inap. Berikut catatan tentang kapal ini: 

Bacaan Lainnya

***

Di tengah penanganan pascagempaM7,7 di Kabupaten Manggarai, kehadiran KRI dr. Soeharso-990 milik TNI Angkatan Laut menjadi harapan baru. Kapal rumah sakit terapung ini kini bersandar di Pelabuhan Reo dan melayani warga 24 jam secara gratis.

Kapal KRI dr Soeharso ini merupakan aset bangsa dan kebanggaan TNI AL untuk melaksanakan misi kemanusiaan saat bangsa dan negara mengalami kesulitan di saat bencana.

Kehadiran kapal ini dengan personil TNI AL mendapat apresiasi dari Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit yang akrab disapa Bupati Hery Nabit.

Dikatakan, kehadiran TNI AL dengan berbagai armada kesehatan dan bantuan logistiknya sangat membantu dalam situasi tanggap darurat pascagempa bumi melanda Flores.

“Kehadiran KRI dr. Soeharso-990 di Pelabuhan Reo serta Posko Angkatan Laut di Kedindi merupakan bentuk nyata kepedulian dan solidaritas dalam situasi tanggap darurat ini,” ujar Bupati Hery.

Berikut beberapa informasi terkait kapal KRI dr Soeharso.

1. Dari Kapal Pendarat Menjadi Rumah Sakit Terapung

KRI dr. Soeharso-990 awalnya bukan rumah sakit. Kapal ini dibangun di Korea Selatan tahun 2003 dengan nama KRI Tanjung Dalpele-972. Fungsinya saat itu sebagai kapal Landing Platform Dock untuk mengangkut personel dan kendaraan tempur.

Seiring kebutuhan fasilitas kesehatan di laut, kapal ini dialihfungsikan. Pada 17 September 2008 di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, namanya resmi diubah menjadi KRI dr. Soeharso-990. Nama itu diambil untuk menghormati Prof. dr. Soeharso, Pahlawan Nasional dan pelopor bedah ortopedi serta rehabilitasi penyandang disabilitas di Indonesia.

Kini kapal ini berada di bawah pembinaan Satuan Kapal Bantu Koarmada II dengan pangkalan utama di Dermaga Madura, Surabaya. Komandannya saat ini adalah Letkol Laut (P) Ivan Halim, S.H., M.Tr.Opsla, sejak 6 April 2026.

2. Spesifikasi dan Fasilitas Setara RS Tipe B

Dengan panjang 122 meter dan lebar 22 meter, KRI dr. Soeharso memiliki bobot 11.394 ton kosong dan 16.000 ton saat muatan penuh. Geladaknya mampu mendaratkan 2 helikopter sekelas Super Puma sekaligus untuk evakuasi udara.

Sebagai rumah sakit terapung, fasilitasnya lengkap seperti:

– UGD dan Triase: Titik pertama penanganan korban

– 1 Ruang Operasi Utama: Dilengkapi alat bedah tulang modern dan sistem sterilisasi tinggi

– 1 Ruang ICU dan 1 Ruang Pemulihan.

– 3 Ruang Bedah: 2 steril, 1 non-steril

– 6 Ruang Poliklinik dan 14 Ruang Penunjang Klinik

– 2 Ruang Rawat Inap: Kapasitas 40 tempat tidur, bisa diperluas hingga 75 pasien

– Laboratorium, Apotek, dan Ruang Isolasi

Dalam kondisi darurat, kapal ini juga bisa menampung 400 pasukan dan 3.000 pengungsi.

Awaknya terdiri dari 75 ABK, ditambah 65 tenaga medis tetap TNI AL. Jumlah total bisa mencapai 126-150 personel saat misi khusus.

3. Kiprah di Misi Kemanusiaan

KRI dr. Soeharso sudah malang melintang dalam operasi kemanusiaan. Mulai dari penanganan bencana gempa dan tsunami di berbagai daerah, hingga evakuasi 74 WNI kru Kapal Pesiar Diamond Princess di Jepang saat pandemi COVID-19.

4. Siaga 24 Jam di Pelabuhan Reo untuk Korban Gempa Flores

Saat ini KRI dr. Soeharso-990 menjalankan misi kemanusiaan di Pelabuhan Reo, Kabupaten Manggarai, NTT sebagai rumah sakit rujukan utama pascagempa M7,7.

Media ini coba menggali dari berbagai sumber terkait tenaga medis yang diterjunkan untuk menangani korban gempa bumi Flores yang terjadi pada beberapa itu.

Tim medis gabungan TNI AL dan Kemenkes diterjunkan dengan spesialisasi:

Dokter Spesialis Ortopedi seperti Letkol Laut (K) dr. Pieter Giarso, Sp.OT untuk penanganan patah tulang.  

Dokter Umum/UGD seperti Lettu Laut (K) dr. Aditya Firmansyah untuk triase dan luka robek.  

Perawat dan tenaga medis lapangan untuk ICU, rawat inap, dan apotek kapal.

***

Hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, kapal ini telah melayani 21 pasien korban gempa. Tindakan yang diberikan meliputi operasi bedah tulang, penanganan luka robek akibat reruntuhan, rawat jalan, dan 3 pasien rawat inap.

“Seluruh layanan medis, tindakan operasi, hingga obat-obatan di atas kapal diberikan gratis untuk seluruh warga terdampak bencana,” demikian keterangan resmi.

Dengan fasilitas setara RS Tipe B di darat, KRI dr. Soeharso-990 menjadi alternatif penting karena sejumlah faskes di Manggarai juga terdampak gempa. Geladak helikopter juga vital untuk mengevakuasi korban dari wilayah yang akses daratnya terputus.

Jangkauan pelayanan medis dari rumah sakit terapung KRI dr Soeharso, berharap bisa ke semua tempat terdampak, termasuk kabupaten Manggarai Timur.

Berdasarkan data pemutakhiran per 23 Agustus 2026, rincian jumlah korban luka parah (luka berat) akibat gempa magnitudo 7,7 di wilayah-wilayah tersebut adalah sebagai berikut:Wilayah Kecamatan Reok & Reok Barat (Kabupaten Manggarai): Tercatat sebanyak 32 orang mengalami luka berat. Mayoritas korban luka berat dan luka ringan di Kabupaten Manggarai terpusat di wilayah Reo. Secara keseluruhan di tingkat kabupaten, terdapat 8 korban kategori merah (luka berat) yang masih memerlukan penanganan intensif.Wilayah Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara (Kabupaten Manggarai Timur): Pihak posko darurat mencatat akumulasi 239 orang mengalami luka berat di seluruh Kabupaten Manggarai Timur. Wilayah Lamba Leda Utara bersama Borong dan Elar menjadi titik konsentrasi utama menumpuknya para penderita luka berat tersebut. (a.apri k/dari berbagai sumber)

Pos terkait