JIKA biasanya rapat digelar di ruang sidang ber-AC Senayan, Jumat malam (21/8/2026) delapan anggota Komisi IX DPR RI justru duduk di bawah tenda darurat Posko Bencana Kabupaten Manggarai.
Di atas kepala mereka bukan plafon megah, tapi terpal. Di telinga mereka bukan suara ajudan, tapi desir angin dan kabar gempa susulan pascagempa Flores M7,7 seminggu sebelumnya.
Malam itu suhu Ruteng menggigit. 15 derajat Celsius. Padahal di puncak musim kemarau bisa tembus 9 derajat. Para legislator menggigil, sama seperti ribuan warga yang mereka temui di pengungsian.
Sejak gempa dahsyat itu, para elit negeri memang tak berhenti mondar-mandir Jakarta–Flores. Ada yang menginap, ada yang pulang-pergi.
Beberapa jam sebelum Komisi IX tiba, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming baru saja terbang dari lokasi pengungsian di Kecamatan Reok, Manggarai dan Dampek, Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.
Tidak hanya pejabat negara. Elit politik nasional juga datang. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Gubernur Jabar Kang Dedi Mulyadi bahkan memilih tinggal bersama korban di tenda pengungsian, membawa bantuan dan merasakan langsung kerasnya malam di Manggarai.
Gubernur NTT, Melky Laka Lena juga tak kerasan di kantor gubernur di Kupang. Hampir setiap saat berada di Flores, memastikan penanganan pascagempa bumi berjalan baik. Memastikan semua warga NTT yang terdampak gempa mendapat yang terbaik.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, seharusnya hadir dari awal pada rapat Komisi IX malam itu. Namun agak terlambat karena harus bersama Wapres Gibran di beberapa lokasi pengungsian.
Semua Kepala daerah di NTT yang terdampak gempa, benar-benar lunglai, dampak gempa sangat luar biasa ditengah keterbatasan anggaran akibat pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat. Satu-satunya harapan adalah pemerintah pusat. Bahkan, seperti yang dialami Pemkab Manggarai, anggaran untuk penanganan gempa diambil dari belanja pegawai sebesar Rp44,1 miliar. Pernyataan “Pakai dulu itu ya, Pak Bupati. Nanti kalau kurang, silakan koordinasi dengan kami” diucapkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada Bupati Manggarai Hery Nabit saat berkunjung ke Ruteng, Rabu (19/8/2026).
Inti permintaan Menkeu Purbaya tersebut Pemkab diminta segera memanfaatkan dana yang ada di lapangan, dan dipersilakan melapor jika membutuhkan tambahan biaya untuk dikoordinasikan langsung dengan Presiden.
Komisi IX: Bukan Pidato, Tapi Pastikan Negara Hadir
Kedatangan rombongan Komisi IX dipimpin Charles Honoris, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari PDI Perjuangan Dapil DKI III. Mereka tiba di Posko Tanggap Darurat pukul 23.16 WITA dan langsung diterima Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit.
Ini kunjungan kerja spesifik Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027. Agendanya satu: memastikan pelayanan kesehatan bagi 31 korban jiwa dan ribuan warga terdampak berjalan.
Turut hadir 2 Wakil Ketua Komisi IX lainnya: drg. Putih Sari dari Gerindra Dapil Jabar VII dan Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh dari PKB Dapil Jatim III. Serta 5 anggota: Obet Rumbruren, dr. Maharani, Ravindra Airlangga, Irma Suryani, dan Nurhadi.
Mereka tidak datang sendiri. Dibawa serta Kemenkes RI, BPOM, BPJS Kesehatan, dan Badan Gizi Nasional. Tujuannya: memastikan dokter, obat, BPJS, hingga makanan bergizi sampai ke pengungsi.
31 Warga Meninggal, Ditambah Satu Relawan
Di hadapan para legislator, Bupati Hery Nabit menyampaikan data duka dengan suara tertahan.
Data korban meninggal dunia saat ini 31 orang, ditambah satu relawan kemanusiaan,” ujarnya.
Bupati secara khusus menyampaikan duka cita atas gugurnya Ahmad Zaki Ali, Founder Yayasan Gerak Bareng, yang meninggal 21 Agustus 2026 saat menjalankan misi kemanusiaan.
Kita tentu sangat berduka atas kepergian saudara Ahmad Zaki Ali. Beliau datang ke Manggarai untuk membantu masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana. Dedikasi dan kepeduliannya patut kita hormati,” kata Bupati Hery.
Kabar baiknya, jumlah korban luka berat dan ringan terus menurun. Tapi pemantauan medis tetap intensif karena gempa susulan masih mengintai.
Wajah Lelah Pemimpin, Wajah Lelah Rakyat
Di tengah duka, Bupati Hery Nabit dan Wabup Fabianus Abu memilih turun ke lapangan. Bukan di balik meja.
Wajah lelah mereka adalah wajah lelah seluruh OPD, camat, kepala desa, tenaga kesehatan, dan relawan yang siang-malam merawat korban di tenda darurat. Di tengah ancaman gempa susulan, cuaca ekstrem, dan kekurangan logistik.
Bahkan lelah itu ditambah derasnya protes dan caci maki warga. Saat diadang warga Desa Wudi, Kecamatan Cibal, Bupati hanya menjawab datar: “One aku taung salah” – semua kesalahan ditimpakan kepada saya.
Tapi mereka tetap jalan. Terus menyambangi 11 kecamatan, mendengar keluh kesah, membawa bantuan.
“Di tengah kekhawatiran gempa susulan, mereka tetap turun. Karena pemimpin harus ada di tengah rakyatnya,” kata relawan di Posko Golo Conggo.
Dalam siaran langsung, Bupati Hery beberapa kali terlihat menahan tangis saat menyebut para korban. Itu bukan kelemahan. Itu bukti, di balik keputusan ada hati yang ikut terluka.
“Pemerintah Kabupaten Manggarai akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi korban dan keluarga yang terdampak,” tegasnya.
Keselamatan Petugas Juga Prioritas
Bupati berpesan kepada seluruh tim, termasuk Komisi IX: membantu penting, tapi keselamatan nomor satu.
“Di tengah semangat membantu masyarakat, keselamatan para relawan dan petugas juga harus menjadi perhatian. Kita tidak ingin ada lagi korban,” ujarnya.
Pemkab Manggarai bersama TNI, Polri, BPBD, Kemenkes, dan relawan akan terus memantau perkembangan gempa dan distribusi layanan kesehatan di posko-posko.
Karena bagi warga Manggarai, kehadiran elit dari Senayan ke tenda darurat ini bukan sekadar kunjungan kerja. Ini pesan: dalam duka, mereka tidak sendiri.
Terimakasih orang baik. Gempa bumi Flores adalah duka kita semua. (a.apri k)







