Distribusi Bantuan Tanggap Darurat Dinilai Tidak Adil, Warga Kecamatan Cibal Merasa Tidak Diperhatikan

Foto warga di Kabupaten Manggarai mengadang mobil milik partai politik yang mengangkut bantuan tanggap darurat gempa bumi Flores. Pengadangan terjadi Senin (17/8/2026) di jembatan Wae Pesi, sebelum masuk Kota Reo.

MANGGARAI, FN- Sejumlah warga Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi korban gempa bumi magnitudo 7,7 pada Sabtu (14/8/2026) merasa tidak diperhatikan dalam distribusi bantuan tanggap darurat.

Warga menilai pemerintah memusatkan perhatian hanya kepada korban gempa di wilayah Kecamatan Reo.

Bacaan Lainnya

“Tidak hanya soal distribusi logistik tanggap darurat yang dipersoalkan, tetapi juga soal kehadiran pejabat baik tingkat kabupaten, provinsi maupun pusat,” ujar seorang warga Desa Gapong kepada media ini, Selasa (18/8/2026) sore.

“Bukan hanya bantuan yang melewati wilayah kami, tetapi juga para pejabat. Padahal mereka menyaksikan sepanjang ruas jalan negara Ruteng-Reok, banyak rumah yang rusak parah hingga rata tanah dan posko pengungsi juga banyak. Semua yang lewat hanya memandang begitu saja kondisi kami,” lanjutnya.

Mengadang Mobil Bantuan

Kekecewaan itu juga dialamatkan kepada partai politik yang dinilai lebih memusatkan perhatian ke Kecamatan Reo.

Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, warga Desa Gapong Kecamatan Cibal mengadang mobil milik Partai Demokrat dan Partai Gerindra yang membawa bantuan ke wilayah utara pada Senin (17/8/2026).

“Masih banyak masyarakat Cibal dan Cibal Barat yang menjadi korban luka bahkan sampai meninggal dunia dan rumahnya mengalami kerusakan parah. Mereka juga mengungsi di posko pengungsian mandiri,” ungkap Hubertus, warga Desa Nenu melalui sambungan telepon, Selasa sore.

Hubertus mengatakan warga sudah tidak menghiraukan lagi seruan kepala desa dan Camat Cibal agar tidak menghalangi distribusi bantuan ke Reok maupun Reok Barat.

“Kami juga manusia yang butuh bantuan karena lapar dan butuhkan logistik lainnya,” ungkap Hubertus.

Keluhkan Ketimpangan Bantuan

Warga lain, Emil, mengaku hanya mendapatkan bantuan “satu dus mie dan beberapa kilogram beras”, sementara melihat mobil bantuan memuat beras dan logistik lainnya melintas.

“Ada kesan tidak adil dalam distribusi bantuan tanggap darurat bencana gempa bumi Flores,” ujar Emil mewakili warga Cibal.

“Kami merasakan bahwa baik pemerintah, partai politik maupun pihak lainnya, tidak adil dalam memberikan bantuan. Kami melihat bantuan banyak menumpuk di Reo, sementara masyarakat di Cibal seperti tidak diperhatikan oleh pemerintah pusat maupun daerah,” ujarnya.

Warga juga mempertanyakan sikap sejumlah pejabat dan politisi dari Jakarta maupun Provinsi yang datang ke Kabupaten Manggarai tetapi tidak menyempatkan diri berhenti melihat langsung kondisi masyarakat terdampak di Kecamatan Cibal.

Mereka menyebut sejumlah pejabat yang datang, termasuk Menko PMK, Kepala BNPB, para menteri, Kapolri, pengurus partai politik, serta pejabat pemerintah daerah.

Minta Data Dicek Langsung

“Silakan mengecek data atau melihat langsung ke wilayah lainnya di kecamatan Cibal. Begitu banyak pengungsi, kerusakan rumah hingga korban luka bahkan korban meninggal dunia. Kami butuh perhatian dan bantuan bahan makanan serta kebutuhan lainnya seperti selimut dan terpal untuk tenda pengungsian,” kata Ferdi dengan nada tinggi.

Ferdi mengakui kondisi di Kecamatan Reo memang parah karena pemukiman padat dan banyak rumah tingkat yang rubuh. Namun ia menegaskan kondisi di Cibal tidak jauh berbeda.

“Secara kasat mata, kondisi di kecamatan Reo memang parah karena pemukiman padat dan banyak rumah tingkat yang rubuh. Hal yang sama kami juga alami. Rumah yang mengalami kerusakan berat juga begitu banyak,” demikian Ferdi. (*)

Pos terkait